Senin, 09 November 2015

Pengertian dan Contoh Jurnal Pembalik

Jurnal Pembalik | Pengertian dan Contoh Jurnal Pembalik

Jurnal Pembalik | Reversing Entry - dalam siklus akuntansi, setelah dilakukan penutupan buku besar serta membuat neraca saldo setelah penutupan, saat awal tahun pada periode akuntansi selanjutnya, sebelum memulai pencatatan suatu transaksi pada periode akuntansi yang baru / tahun buku baru terkadang perusahaan butuh untuk menyesuaikan lagi rekening akun akun yang sudah dibuat jurnal penyesuaian.

Dan ayat jurnal yang diperlukan untuk melakukan hal tersebut adalah " Jurnal Pembalik ". bisa kita artikan jurnal pembalik adalah ayat jurnal yang disusun saat awal periode akuntansi yang baru untuk membalik akun jurnal penyesuaian tertentu. Tidak seluruh jurnal penyesuaian perlu dibuatkan jurnal pembalik. ayat jurnal ini dibutuhkan agar terhindar dari kesalahan pencatatan ketika awal periode akuntansi yang baru. Jurnal Pembalik ini sifatnya opsional. dilakukan jika dirasa perlu.

jurnal pembalik
jurnal pembalik
Fungsi Jurnal Pembalik

Adapun Fungsi Jurnal Pembalik atau tujuan dibuat jurnal pembalik antara lain untuk:
  • Mempermudah pencatatan transaksi pada awal periode akuntansi yang baru, terutama yang berhubungan dengan ayat jurnal penyesuaian
  • Menyederhanakan penyusunan jurnal pada periode akuntansi berikutnya. jurnal pembalik dapat memberikan manfaat bila perusahaan membuat ayat jurnal yang jumlahnya banyak
  • Meminimalisir kesalahan atau kekeliruan yang mungkin bisa terjadi, seperti menghindari pengakuan biaya atau pendapatan yang double karena penyusunan ayat jurnal penyesuaian. untuk transaksi yang akrual dan transaksi yang deferral tertentu.
Dan sekali lagi perlu untuk diingat, jurnal pembalik bukanlah suatu keharusan, tergantung dari sistem pencatatan akuntansi yang ditetapkan perusahaan dalam pengakuan harta atau beban dan kewajiban atau pendapatan. dan sekali perusahaan menetapkan penggunaan pendekatan pendapatan dan beban, maka perusahaan seharusnya tetap konsisten dalam penerapannya, tidak berubah ubah dan harus dipertahankan.

Dalam menyusun ayat jurnal pembalik berdasarkan dari jurnal penyesuaian, tanda tanda suatu akun jurnal penyesuaian membutuhkan jurnal pembalik adalah apabila suatu akun jurnal penyesuaian mmemunculkan akun riil yang baru atau belum terlihat di neraca saldo. 
Beberapa akun jurnal penyesuaian yang membutuhkan jurnal pembalik:
  1. Beban yang masih harus dibayar
  2. Beban yang dibayar dimuka (jika tercatat sebagai beban)
  3. Pendapatan yang masih akan diterima
  4. Pendapatan yang diterima dimuka (jika tercatat sebagai pendapatan)
  5. Pemakaian atas Perlengkapan (bila tercatat sebagai beban)
Contoh Jurnal Pembalik
Beban yang masih harus di bayar


Jurnal Penyesuaian


Jurnal Pembalik










Debit | Beban Sewa Rp100

Utang Sewa Rp100
Kredit | Utang Sewa
Rp100
Beban Sewa
Rp100



Contoh Jurnal Pembalik
Beban yang dibayar dimuka


Jurnal Penyesuaian


Jurnal Pembalik










Debit | Asuransi dibayar dimuka Rp100

beban asuransi Rp100
Kredit | beban asuransi
Rp100
Asuransi dibayar dimuka
Rp100

Contoh Jurnal Pembalik
Pendapatan yang masih akan diterima


Jurnal Penyesuaian


Jurnal Pembalik










Debit | piutang bunga Rp100

pendapatan bunga Rp100
Kredit | pendapatan bunga
Rp100
piutang bunga
Rp100



Contoh Jurnal Pembalik
Pendapatan Diterima dimuka (jika tercatat sebagai pendapatan)


Jurnal Penyesuaian


Jurnal Pembalik










Debit | pendapatan sewa Rp100

sewa diterima dimuka Rp100
Kredit | sewa diterima dimuka
Rp100
pendapatan sewa
Rp100



Contoh Jurnal Pembalik
Pemakaian Perlengkapan (bila tercatat sebagai beban)


Jurnal Penyesuaian


Jurnal Pembalik










Debit | perlengkapan Rp100

beban perlengkapan Rp100
Kredit | beban perlengkapan
Rp100
perlengkapan
Rp100



Demikian sekilas mengenai jurnal pembalik, semoga tulisan ini bermanfaat, mungkin buat tugas anda

Rabu, 04 November 2015

TUGAS SOFSKILL PEMBAGIAN DIVIDEN TUNAI PADA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS)

BAB 1
PENDAHULUAN
    1.     Latar Belakang
            Perusahaan mempunyai kebijakan dalam menentukan  pebagian dividen yang sangat penting karena melibatkan dua pihak yaitu pemegang saham dan manajemen perusahaan yang mempunyai kepentingan berbeda. Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang berkaitan dengan pembayaran dividen oleh perusahaan, yaitu penentuan besarnya pembayaran dividen dan besarnya  laba yang ditahan untuk kepentingan perusahaan. Tujuan pembagian dividen adalah untuk memaksiumkan pemegang saham atau harga saham dan menunjukkan likuiditas perusahaan.
            Setiap investor mempunyai tujuan dalam menanamkan modalnya dalam bentuk saham adalah untuk memaksimumkan kekayaannya yang diperoleh baik melalui dividen yang akan dibagikan maupun melalui capital gain pada saat saham tersebut dijual.
            Investor lebih memilih untuk mendapatkan dividen dibandingkan denga capital gain, hal ini didukung dengan pendapat Myron Gordon dan John Lintner dalam teori “Bird-in-the Hand Theory” mengatakan bahwa investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen daripada menunggu capital gain.
            Perusahaan yang sudah go public wajib melaporkan pembagian dividen kepada investor dan biasanya perusahaan akan membagikan dividennya satu kali dalam setahun pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pembagian dividen tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan, karena faktor utama dalam pembagian dividen adalah laba perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Pengertian Dividen

                        Dividen berasal dari bahasa Latin yaitu divendium yang artinya sesuatu untuk dibagi. Berikut ini beberapa pemaparan mengenai pengertian dividen:

·         Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia dividen diartikan sejumlah uang sebagai hasil keuntungan yang dibayarkan kepada pemegang saham (dalam suatu Perseroan).
·         Dalam dunia ekonomi dividen adalah seluruh laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan pajak yang dibagikan kepada pemegang saham (pemilik modal sendiri) kecuali ditentukan lain dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2.2. Jenis – Jenis Dividen
·         Dividen Tunai (Cash dividend), ialah dividend dalam bentuk tunai, dikenakan pajak pada tahun pengeluarannya dan metode paling umum untuk pembagian keuntungan.
·         Dividen Properti (Provperty dividend), ialah dividen dalam bentuk barang-barang, misalnya berupa marketable scurities atau investment in stock yang dimiliki perusahaan. Pembagian dalam bentuk ini jarang dilakukan.
·         Dividen Saham (Stock dividend), ialah dividen yang berupa saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan itu sendiri. Biasanya dihitung berdasarkan proporsi terhadap jumlah saham yang dimiliki
·         Dividen interim, ialah dividen dibagikan sebelum tahun buku Perseroan berakhir.
                        Secara umum mekanisme pembagian dividen terbagi dua yaitu jadwal dan tata cara pembagian dividen. Mekanisme ini tergantung pada keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang umumnya diadakan per tahun. Berikut mekanisme pembagian dividen:
                               Harga saham  akan bergerak seiring dengan pengumuman pembagian dividen yang akan dilakukan oleh perusahaan. Secara umum harga saham akan bergerak naik sesuai dengan besarnya dividen yang akan dibagikan perusahan sampai dengan cum dividend date. Kemudian harga saham akan turun kembali pada tingkat wajarnya pada ex-dividend date. Berikut jadwal pembayaran dividen yang harus diperhatikan pemegang saham, yaitu:
1.      Declaration Date, yaitu tanggal pengumuman resmi dari emiten/perusahaan untuk melakukan pembagian dividen.
2.      Cum-Dividend Date, yaitu tanggal terakhir transaksi/perdagangan saham dimana pembeli saham memperoleh hak atas dividen yang dibagikan perusahaan.
3.      Ex-Dividend Date, yaitu tanggal dimana investor sudah memiliki hak untuk memperoleh dividen dan sudah boleh untuk menjual saham yang dimilikinya.
4.      Date of Record/ Recording Date, yaitu tanggal dimana investor harus terdaftar atau menentukan daftar nama dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan sehingga ia mempunyai hak yang diperuntukan bagi pemegang saham.
5.      Payment Date / Distribution Date, yaitu tanggal dimana perusahaan membagikan dividen kepada pemegang saham.
            Berikut ini tata cara pembagian dividen secara tunai:
1.        Menemtukan tanggal dan jam pendaftaran pemegang saham yang berhak menerima pembagian dividen tunai kepada perseroan/perusahaan yang bersangkutan.
2.        Menentukan distribusi pembagian dividen tunai, dapat melalui:
·           PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI (koloktif)
·           Broker
Hal ini tergantung lewat perantara mana pemegang saham mengalokasikan bagian dividen tunainya.
3.        Menentukan tanggal dan jam pembagian dividen tunai kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan.
4.        Menentukan tarif dan perhitungan pajak.
5.        Menentukan tarif dan perhitungan pajak bagi pemegang saham apabila yang bersangkutan merupakan wajib pajak luar negeri.
2.4. Pembagian Deviden
    Inilah System Pembagian Deviden yang Akan Menguntungkan Setiap Investor
Pada Level Bebas, Investor mendapat komisi 75% dari setiap Investor yang bergabung dengan memakai sponsornya. Sisa 25% merupakan bagian dari Investasi7. Namun  Investasi7 tidak mengambil semua dari 25% tersebut. Disinilah kelebihan Investasi7 dibandingkan dengan Bisnis Internet lainnya. Dari total dana yang terkumpul dari penyisihan 25% tersebut, kami menyisihkan 10%nya untuk dibagikan kembali ke semua Investor. Inilah yang dimaksud dengan Deviden.
Semua Investor berhak memperoleh Pembagian Deviden dengan memenuhi syarat berikut:
·         Telah mencapai Level Bebas.
·         Telah aktif bergabung dengan Investasi7 minimal selama 2 bulan.
                 Adapun pembagian Deviden mengikuti ketentuan berikut:
1.      Deviden dibagi setiap akhir Bulan Juni dan Akhir Bulan Desember.
2.      Seluruh Deviden yang terkumpul pada setiap Semester, ditotal untuk mendapatkan Jumlah Dana yang harus dibagi.
3.      Total Deviden tersebut dibagi ke seluruh Investor yang memenuhi syarat dengan persentase sesuai dengan Jumlah Sponsor yang diperoleh Investor pada Level Bebas selama 1 Semester.
4.      Angka Persentase diperoleh, dengan menjumlah seluruh Investor yang bergabung dengan Investasi7 dari Level Bebas pada Periode tersebut, dibagi dengan Jumlah Sponsor yang diperoleh Investor masing-masing.
5.      Hasil Deviden langsung ditransfer ke Rekening Investor selama Minggu Pertama Bulan Juli dan Januari, diikuti dengan Laporan Pembagian Deviden yang dikirimkan ke email Investor.
Sebagai contoh :
                                      Selama Periode Januari – Juni beberapa Investor bergabung dengan Investasi7.
No.
Nama
Waktu
Bergabung
Level
yang Dicapai
Jumlah Investor
yang disponsori
1.
A
Januari
Level Bebas
100
2.
B
Februai
Level Equivalen
4
3.
C
Maret
Level Bebas
75
4.
D
April
Level Bebas
50
5.
E
Mei
Level Equivalen
6
6.
F
Mei
Level Bebas
20
7.
G
Juni
Level Bebas
200
Dari Ilustrasi diatas terlihat ada 7 Investor yang telah bergabung (sebenarnya 462Investor, kalau ditotal dengan Jumlah Investor yang disponsori, tapi untuk mempermudah ilustrasi jumlah tersebut tidak ikut dihitung). Dari 7 Investor tersebut, tidak semua akan menerima Pembagian Deviden pada Akhir Bulan Juni. Karena sesuai dengan syarat, hanya Investor yang telah mencapai Level Bebas dan minimal telah bergabung selama 2 bulan yang berhak menerimanya. Berarti B dan E belum berhak menerima Deviden karena masih berada pada Level Equivalen. Demikian Juga dengan F dan G, walau telah mencapai Level Bebas namun belum 2 bulan aktif.
Sehingga yang berhak menerima Pembagian Deviden adalah A, C dan D. Untuk menentukan persentase Deviden yang diperoleh ketiga Investor tersebut mengikuti perhitungan berikut:
No.
Nama
Waktu
Bergabung
Level
yang Dicapai
Jumlah Investor yang disponsori
1.
A
Januari
Level Bebas
100
2.
C
Maret
Level Bebas
75
3.
D
April
Level Bebas
50
Jumlah Investor = 3
Total Investor yang disponsori = 225
Berarti A berhak memperoleh bagian Deviden sebesar 100/225 = 44,4%
B berhak memperoleh bagian Deviden sebesar 75/225 = 33,3%
C berhak memperoleh bagian Deviden sebesar 50/225 = 22,2%
BAB III
PENUTUP
3.  Kesimpulan
                               Pembagian dividen didasarkan atas perolehan laba perusahaan. Ada perusahaan yang membagikan dividen setiap dan ada yang tidak pernah membagikan dividen. Hal itu yang dimaksud dengan kebijakan dividen.
                               Untuk mendapatkan dividen pemegang saham harus menyimpan sahamnya sampai cum- dividend date barulah bisa mendaptkan dividen, setelah cum- dividend date atau ex-dividend date pemegang saham bisa menahan atau menjual sahamnya. Apabila pemegang saham menjual sahamnya pada saat cum- dividend date maka pemegang saham tidak bisa mendapatkan dividen yang dibagikan perusahaan.
Nama Anggota     :
Ø Ajeng Hikmahning                  (22209436)
Ø Anggi Mustika Sari                 (20210824)
Ø Antari Pramono                      (20210936)
Ø Doriah Afni Panjaitan             (22210154)
Ø Hastanti Rusvita Mei              (23210182)

Perlakuan Akuntansi Dan Jurnal Pembagian Dividen


Perlakuan-Akuntansi-dan-Jurnal-Dividen
Ditulis oleh Mr. JAK

Sebelumnya, JAK  sudah dibahas mengenai tata cara pemotongan dan pelaporan pajak dividen. Di tulisan ini akan dibahas mengenai perlakuan akuntansi (beserta jurnal dan contoh kasus) pembagian dividen (semua jenis: dividen kas, dividen surat berharga, dividen saham).
Sudah menjadi prinsip dasar akuntansi bahwa keuangan perusahaan tidak diacampuradukan dengan keuangan pribadi pemilik. Dalam artian pemilik usaha tidak dibenarkan mengambil aset perusahaan (uang kas, persediaan, aktiva tetap, dll) untuk keperluan pribadi.
Satu-satunya cara yang dibenarkan adalah melalui pembagian dividen untuk badan usaha berbentuk perseroan terbatas (PT) atau prive untuk badan usaha persekutuan (CV). Sehingga pada dasarnya, dividen adalah laba perusahaan yang dibagikan bagi para pemegang saham (pemilik perusahaan).
Sebelum masuk ke perlakuan akuntansi dividen, saya ingin mengajak pembaca untuk melihat ke akun ‘Laba Ditahan (Retained Earning)’ terlebih dahulu. Hal ini penting agar masalah dividen bisa dipahami dengan lebih mudah.


Laba Diatahan (Retained Earning)

Neraca, dapat digambarkan dalam satu formula sederhana (disebut persamaan akuntansi) sebagai berikut:
Aktiva = Utang + Modal
Setelah  perusahaan beroperasi, maka persamaan tersebut berubah menjadi;
Aktiva = Utang + Modal + Laba Ditahan


Ada tambahan akun ‘Laba Ditahan’.  Laba ditahan itu sendiri adalah akumulasi laba perusahaan sepanjang waktu—sejak berdiri hingga laporan keuangan dibuat. Angka saldo di akun laba ditahan ini akan meningkat setiap kali perusahaan memperoleh laba, sebaliknya akan berkurang setiap kali perusahaan mengalami kerugian. Sehingga bisa dikatakan bahwa ‘Laba Ditahan’ adalah akun penampung laba yang berasal dari “Laporan Laba Rugi (Income Statement)”.
Sementara itu, angka Laba diperoleh dengan cara mengurangi pendapatan dengan beban dan biaya, atau jika diformulasikan:
Laba/Rugi = Pendapatan – Biaya
Note: Berpindahnya laba/rugi dari Laporan Laba Rugi ke Neraca terjadi pada saat penutupan buku.

Contoh Pembentukan Laba Ditahan
Di tahun 2011 PT. JAK memperoleh pendapatan sebesar Rp  150,000,000 dengan beban dan biaya sebesar Rp 100,000,000, sehingga:
Laba = 150,000,000 – 100,000,000 = Rp 50,000,000
Maka pada saat penutupan buku, laba tersebut ditutup dengan jurnal:
[Debit]. Pendapatan = 150,000,000
[Credit]. Biaya = 100,000,000
[Credit]. Laba/Rugi = 50,000,000

Setelah jurnal penutupan dimasukan, akun pendapatan dan biaya menjadi nol. Yang tersisa di buku besar tinggal akun ‘Laba/Rugi’ saja sebesar Rp 50,000,000 dengan saldo kredit. Selanjutnya akun Laba/Rugi-pun ditutup, sekaligus nilai laba dipindahkan ke Neraca dengan jurnal:
[Debit]. Laba/Rugi = 50,000,000
[Credit]. Laba Ditahan = 50,000,000

Sehingga, nilai akun ‘Laba Ditahan’ pada Neraca bertambah sebesar Rp 50,000,000.
Begitulah akun laba ditahan bertambah atau berkurang, tergantung apakah perusahaan membukukan laba atau rugi. Dalam contoh tadi kebetulan perusahaan memperoleh laba sehingga akun laba ditahan bertambah. Jika perusahaan mengalami kerugian, maka akun laba ditahan akan ikut berkurang juga.
Faktor lain yang menyebabkan saldo akun laba ditahan meningkat (namun mungkin pengaruhnya tidak sebesar laba/rugi operasional), antara lain:
  • Penyesuaian (melalui jurnal koreksi setelah tutup buku)
  • Penyesuaian akibat adanya kuasi-organisasi
Sedangkan yang penyebab utama saldo akun Laba Ditahan menurun, selain kerugian, adalah: PEMBAGIAN DIVIDEN—perusahaan membagikan sebagian laba yang diperoleh untuk para pemegang saham.
Dividen, tidak selalu dalam bentuk uang tunai, ada berbagai bentuk lainnya. Apa saja, bagaimana perlakuan akuntansinya untuk masing-masing jenis dividen? Itulah topik utama dari tulisan ini. Silahkan diikuti.


Perlakuan Akuntansi Dividen (Beserta Jurnal dan Contoh Kasus)

Seperti saya sebutkan di atas, ada beberapa jenis dividen yang lumrah dilaksanakan di perusahaan-perusahaan korporasi yang sudah berstatus go-public, antara lain: (1) uang tunai, (2) surat berharga, bonds misalnya, (3) promes atau notes payable, atau (4) penerbitan saham. Kecuali dividen dalam bentuk saham, semuanya bersifat mengurangi nilai modal secara kesuluruhan.


Dividen Dalam Bentuk Uang Tunai (Cash Dividends)
Mayoritas perusahaan membagikan dividen bagi para pemegang saham dalam bentuk uang tuna (cash dividen). Ada 4 tanggal penting yang perlu diperhatikan dalam perlakuan akuntansi dividen berjenis uang tunai, yaitu:
1. Tanggal Pengumuman, adalah tanggal pada saat dewan direksi mengumumkan akan dibagikannya dividen dalam bentuk uang tunai. Pada saat ini perusahaan melakukan pengakuan akan utang dividen dengan mendebit saldo laba ditahan.
2. Tanggal Ex-Dividen, adalah tanggal pada saat tanggal penghentian penjualan saham di bursa untuk sementara. Penghentian penjualan saham sementara dilakukan (mungkin 1 atau 2 hari), tiada lain agar perusahaan punya waktu untuk melakukan pemutahiran (update) buku besar “Ekuitas Pemegang Saham”.
3. Tanggal Pencatatan, adalah tanggal pada saat para pemegang saham dapat melihat nilai dividen yang akan diterimanya melalui memorandum pencatatan dividen tunai yang dibuat oleh perusahaan. Pada saat ini, tidak ada jurnal yang perlu dibuat. Perusahaan hanya perlu menunjukan memo pencatatan dividennya saja, sehingga pemegang saham bisa melihat berapa persisnya jumlah uang tunai yang akan diterima.
4. Tanggal Pembayaran, adalah tanggal pada saat dividen dibayarkan. Pada saat yang sama perusahaan mencatat pengeluaran kas untuk pembayaran dividen, sekaligus mengeliminasi ‘Utang Dividen’ yang diakui pada saat tanggal pengumuman.
Misalnya:
Pada tanggal 15 Maret 2011 PT. JAK mengumumkan bahwa persahaan akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 1/lembar saham kepada para pemegang sahamnya. Ada 2,000,000 lembar saham yang sudah diterbitkan sampai saat itu.  Dividen rencananya akan dibagikan pada tanggal 1 Juni 2011. Untuk itu manajemen perusahaan mengundang para pemegang saham pada tanggal 15 April 2011 untuk memeriksa nilai dividen yang akan mereka terima. Ex-Dividen (penghentian penjualan saham sementara) adalah 16 Maret 2011. Jurnalnya akan menjadi sebagai berikut:

1. Pada tanggal Pengumuman (15 Maret 2011).
[Debit]. Laba Ditahan (Pengumuman Dividen Tunai) = Rp 2,000,000
[Kredit]. Utang Dividen = Rp 2,000,000
2. Pada tanggal Ex-Dividen (16 Maret 2011)
Tak ada jurnal yang perlu dibuat. Bagian Accounting hanya melakukan pemindahan data dividend an pengurangan laba ditahan ke Buku Besar.

3. Pada tanggal pencatatan (15 April 2011)
Tidak ada pencatatan yang perlu dilakukan. Perusahaan hanya menunjukan memo pencatatan yang dilakukan pada tanggal 15 April 2011 yang lalu, sehingga masing-masing pemegang saham tahu berapa besarnya dividen yang akan mereka terima pada saat tanggal pembayaran nanti.

4. Pada tanggal Pembayaran (1 Juni 2011)
[Debit]. Utang Dividen = Rp 2,000,000
[Credit]. Kas = Rp 2,000,000

Dividen Surat Berharga (Nonmonetary Asset Dividend)
Bisa jadi perusahaan membagikan dividen dalam bentuk surat berharga, bond misalnya. Perusahaan memberikan bonds (investasi di perusahaan lain) yang mereka miliki kepada para pemegang saham. Dalam hal ini, bond yang akan diberikan dinilai sebesar harga pasar wajarnya. Jika bond yang akan diberikan masih dicatat sebesar harga perolehannya, maka perusahaan perlu membuat penyesuaian terlebih dahulu.
Misalnya:
Pada tanggal 15 Maret 2011 PT. JAK mengumumkan akan membagikan dividen dalam bentuk surat berharga berupa surat berharga diterbitkan oleh PT. XYZ yang akan segera jatuh tempo. Surat berharga tersebut, dahulu diperoleh seharga Rp 500,000. Pada saat pengumuman pembagian dividen dilakukan (15 Maret 2011) nilai pasar wajar surat berharga yang diterbitkan oleh PT. XYZ adalah Rp 600,000.  Bagaimana jurnal untuk pembagian dividen PT. JAK?
1. Pada tanggal pengumuman (15 Maret 2011)
[Debit]. Investasi di PT. XYZ—Surat Berharga =  Rp 100,000
[Kredit]. Laba Investasi (600,000 – 500,000) = Rp 100,000
(penyesuaian surat berharga ke nilai pasar wajarnya)
[Debit]. Laba Ditahan (Pengumuman Dividen Surat Berharga) = Rp 600,000
[Kredit]. Utang Dividen = Rp 600,000
2. Pada Saat Pembagian
[Debit]. Utang Dividen = Rp 600,000
[Kredit]. Investasi di PT. XYZ—Surat Berharga = Rp 600,000
Dividen Promes, Notes Payable (Scrip Dividends)
Ada keadaan dimana perusahaan memiliki akumulasi laba ditahan yang sesungguhnya sudah memungkinkan untuk membagikan dividen bagi para pemegang sahamnya, akan tetapi jumlah uang tunainya tidak mencukupi. Alternatif yang bisa diambil jika ingin membagi dividen adalah dengan menerbitkan promes atau janji membayar dikemudian hari (notes payable). Dividen semacam ini disebut dengan “Scrip Dividend
Misalnya:
Pada Tanggal 1 Juni 2011 PT. JAK mengumumkan pembagian dividen berupa Scrip dividend berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 1/lembar  untuk 3,000,000 lembar saham yang beredar. Bunga promes adalah 10% per tahun. Bagaimana pencatatannya?
1. Pada tanggal pengumuman (1 Juni 2011)
[Debit]. Laba Ditahan (Scrip Dividend) = Rp 3,000,000
[Kredit]. Utang Promes (Utang Scrip Dividend) = Rp 3,000,000
(Rp 1 x 3,000,000)
2. Pada tanggal pembayaran/jatuh tempo (1 September 2011)
[Debit]. Utang Promes kepada Pemegang Saham = Rp 3,000,000
[Debit]. Biaya Bunga [(3,000,000 x 10%) x 3/12] = Rp 75,000
[Kredit]. Kas = Rp 3,075,000

Dividen Saham (Stock Dividend)
Selain pembagian dividen dalam bentuk surat berharga, alternatif yang paling sering dilakukan adalah dividen dalam bentuk saham—bila perusahaan kekurangan likuiditas (kas). Pembagian dividen jenis stock biasanya diberikan secara merata bagi semua pemegang saham.
Pembagian dividen saham sesungguhnya tidak menyebabkan kekayaan perusahaan berkurang. Nilai aset bersih perusahaan, tetap seperti sebelum pembagian dividen. Demikian halnya dengan komposisi kepemilikan. Transaksi dilakukan dengan cara mengkapitalisasi laba ditahan. Artinya saldo laba di tahan (sebagian atau seluruhnya) dipindahkan ke akun modal. Sehingga modal disetor bertambah, sedangkan laba ditahan berkurang atau habis.
Perlakuan akuntansi dividen saham berbeda-beda tergantung porsi dividen saham yang dibagikan:
1. Dividen Saham Jumlah Kecil – Untuk dividen saham dalam jumlah kecil (kurang dari 25% saham beredar, maka saham yang akan diterbitkan sebagai dividen dinilai sebesar harga pasar wajarnya. Sebagai ilustrasi, asumsikan posisi ekuitas pemilik PT. JAK, sebelum dividen saham diumumkan, adalah sebagai berikut:
Saham biasa Rp 20 par (30,000 lembar saham beredar) = Rp    600,000
Tambahan modal disetor                                                                = Rp    300,000
Laba Ditahan                                                                                        = Rp    600,000
Total Ekuitas Pemilik                                                                        = Rp 1,500,000
PT. JAK mengumumkan pembagian dividen dalam bentuk saham sebesar 20% dari saham beredar (30,000 x 20% = 6000 lembar). Pada tanggal yang sama, harga pasar saham PT. JAK adalah Rp 25/lembar. Dengan demikian, maka harga pasar wajar atas 6000 lembar saham yang akan dibagikan sebagai dividen adalah Rp 150,000. Jurnal yang diperlukan:
Pada saat pengumuman:
[Debit]. Laba Ditahan =  Rp 150,000
[Kredit]. Dividen Saham Biasa Tersedia Untuk Dibagi = Rp 120,000
[Kredit]. Tambahan Modal Disetor Dari Dividen Saham = Rp 30,000

Pada saat penerbitan saham untuk dividen:
[Debit]. Dividen Saham Biasa Tersedia Untuk Dibagi = 120,000
[Kredit]. Saham biasa, Rp 20 par = 120,000

Setelah saham untuk dividen diterbitkan, maka posisi ekuitas pemilik menjadi sebagai berikut:
Saham biasa Rp 20 par (36,000 lembar beredar) = Rp   720,000
Tambahan modal disetor                                                 = Rp    330,000
Laba Ditahan                                                                         = Rp     450,000
Total Ekuitas Pemilik                                                         = Rp 1,500,000

2. Dividen Saham Dalam Jumlah Besar – Untuk dividen saham dalam jumlah besar (lebih dari 25% sisa saham belum terjual), maka saham yang akan diterbitkan sebagai dividen dinilai sebesar nilai par-nya. Sebagai ilustrasi, anggap PT. JAK mengumumkan pembagian dividen sebesar 50% dari total saham beredar (informasi lainnya sama seperti ilustrasi sebelumnya). Maka jurnal yang diperlukan pada saat pengumuman:
[Debit]. Laba Ditahan (50% x 30,000 lembar x Rp 20) = Rp 300,000
[Kredit]. Dividen Saham Biasa Tersedia Untuk Dibagi = Rp 300,000

Pada saat penerbitan saham untuk dividen dijurnal:
[Debit]. Dividen Saham Biasa Tersedia Untuk Dibagi = Rp 300,000
[Kredit]. Saham Biasa, Rp 20 par = Rp 300,000

Posisi ekuitas pemipik pasca penerbitan saham untuk dividen menjadi sbb:
Saham Biasa, Rp 20 par (45,000 lembar) = Rp     900,000
Tambahan Modal Disetor                                 =  Rp    300,000
Laba Ditahan                                                          = Rp     300,000
Total Ekuitas Pemilik                                          = Rp 1,500,000

Perhatikan bahwa tambahan penerbitan saham untuk dividen tidak mengubah total ekuitas pemilik, karena bertambahnya saham beredar diimbangi oleh menurunnya laba ditahan. Dan harga par saham tetap seperti semula. Perbedaan antara par dengan harga pasar wajar (untuk dividen jumlah kecil) dicatat sebagai “Tambahan Modal Disetor”.